Laman

Kamis, 22 November 2012

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

Asuhan keperawatan yaitu memberikan pelayanan yang menyeluruh diartikan sebagai pemberi bantuan dengan memulihkan diri pada waktu klien/individu tidak dapat melaksanakan kegiatan tersebut (Yaya adela, 1996).
Konsep Asuhan keperawatan merupakan langkah awal tahapan proses keperawatan. Proses keperawatan adalah bentuk pelayanan kesehatan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan mencakup bio, psiko, sosio, dan spiritual yang komprehensif ditujukan pada individu, keluarga, kelompok, masyarakat baik sehat maupun sakit (CHS, 1982).
Proses keperawatan yang digunakan terdiri dari 5 tahap, yaitu :

1. Pengkajian
            Pengkajian adalah dasar utama dari proses keperawatan, pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan klien, serta merumuskan diagnosa keperawatan (Keliat, 1990).
            Suatu pengkajian fisik lengkap, termasuk pengukuran tanda-tanda vital, dilakukan pada saat masuk ke unit pascapartum. Hal penting lainnya yang juga harus diperoleh saat ibu diterima dalam unit pascapartum ialah laporan yang komprehensif tentang peristiwa yang terjadi selama periode intrapartum. Komponen pengkajian awal yang lain adalah status emosi ibu, tingkat energi, derajat kelelahan fisik, rasa lapar, dan rasa haus. Pada tingkat tertentu, pengetahuan ibu tentang perawatan diri dan perawatan bayi dapat ditentukan (Cashion and Johnston, 2004).
            Pengkajian pada klien postpartum menurut Cashion and Johnston meliputi :
a. Tanda-tanda vital.
            Pengkajian tekanan darah, nadi, dan pernafasan pasien biasanya dilakukan setiap 15 menit selama 1 jam pertama setelah bayi lahir. Apabila kondisi ibu tetap stabil frekuensi pengkajian dikurangi setelah masa awal periode pemulihan berakhir, misalnya setiap 30 menit selama 2 jam berikutnya. Suhu badan ibu dikaji saat ibu masuk ke ruang pemulihan dan diulang satu jam kemudian. Apabila tanda-tanda vital ibu tetap dalam batas normal, pengkajian umumnya dilakukan setiap empat sampai delapan jam sepanjang masa inap yang tersisa di rumah sakit.
b. Pengkajian fisik berkelanjutan.
            Ibu postpartum harus dievaluasi dengan seksama pada setiap pergantian jaga selama mereka dirawat. Pengkajian fisik mencakup ; pemeriksaan payudara, tinggi fundus, lokia, perineum, fungsi kemih dan defekasi, tanda-tanda vital dan tungkai.

c. Uji laboratorium rutin.
            Beberapa uji laboratorium bisa segera dilakukan pada periode postpartum. Nilai haemoglobin dan hematokrit seringkali dibutuhkan pada hari pertama postpartum untuk mengkaji kehilangan darah pada saat persalinan. Spesimen urine dilakukan untuk pemeriksaan urinalisis rutin atau kultur dan sensitifitas. Selain itu, catatan prenatal ibu harus dikaji untuk menentukan status rubela dan Rhesus dan kebutuhan therapi yang mungkin.


2. Diagnosa keperawatan
          Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan, dan mengatasi kebutuhan spesifik, serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi.
Walaupun semua wanita mengalami perubahan psikologis yang sama selama periode postpartum, faktor-faktor tertentu membuat setiap ibu memiliki pengalaman yang unik. Dari sudut pandang fisiologis tentang lama dan kesulitan persalinan, setiap ibu harus menjalani pemeriksaan yang meliputi : Kelahiran (Pervaginam atau sesaria), ada tidaknya laserasi atau episiotomi, apakah ibu akan menyusui sendiri atau menggunakan susu formula.
            Setelah data yang telah dianalisis diperoleh pada proses pengkajian, perawat menegakkan diagnosa keperawatan yang kemudian digunakan sebagai pedoman untuk merencanakan perawatan. Contoh diagnosa keperawatan yang sering diidentifikasi pada pasien postpartum ialah sebagai berikut :
1.       Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan Trauma jalan lahir.
2.      Konstipasi atau retensi urine yang berhubungan dengan nyeri setelah melahirkan.
3.  Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan ketidaknyamanan pada periode postpartum, perawatan bayi dan rutinitas di rumah sakit.
4.  Nyeri yang berhubungan dengan involusi rahim, trauma pada perineum, episiotomi, haemorroid, pembengkakan payudara.
5.      Resiko tinggi cidera yang berhubungan dengan pendarahan postpartum, efek anesthesia.
6.      Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan pentingnya buang air kecil untuk mencegah pendarahan.
7.      Proses menyusui tidak efektif yang berhubungan dengan nyeri, pengaturan posisi bayi, respons fisiologis normal.

3. Intervensi keperawatan
            Setelah merumuskan diagnosis keperawatan, maka intervensi keperawatan perlu diterapkan untuk menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien (Keliat, 1990).
Intervensi atau rencana asuhan keperawatan meliputi perawatan pada ibu postpartum dan bayinya, sekalipun perawat di unit rawat bayi tetap mengemban tanggung jawab utama dalam perawatan bayi. Setelah diagnosa keperawatan disusun, perawat bersama pasien menetapkan prioritas tindakan keperawatan yang akan dilakukan dengan tepat. Selama dirawat di rumah sakit, ibu dianjurkan mengambil tanggung jawab yang semakin besar dalam merawat bayinya. Dengan demikian pasien dan pasangannya akan memberi lebih banyak perawatan kepada bayi dan tugas perawat sedikit demi sedikit beralih dari pemberi perawatan langsung menjadi pengajar, pemberi semangat, dan pemberi dukungan.
            Rencana asuhan keperawatan akan meliputi pengkajian untuk mendeteksi adanya deviasi perubahan fisik normal, tindakan untuk menghilangkan nyeri dan tindakan keamanan untuk mencegah cidera atau infeksi. Rencana keperawatan juga mencakup pengajaran dan konseling yang ditujukan untuk meningkatkan perasaan kompeten pasien dalam merawat diri maupun bayinya. Anggota keluarga juga dilibatkan dalam pengajaran. Perawat mengevaluasi secara kontinu dan siap mengubah rencana jika ada indikasi.

4. Implementasi
            Implementasi adalah pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat dan klien. Beberapa petunjuk pada implementasi adalah sebagai berikut :
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, keterampilan interpersonal, intelektual, tekhnikal hendaknya dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologi dilindungi, dokumentasi intervensi dan respon klien (Keliat, 1990).  
            Perawat memainkan banyak peran sewaktu mengimplementasi rencana asuhan keperawatan. Memberikan perawatan fisik secara langsung, mengajarkan perawatan ibu dan anak, dan memberi pedoman serta konseling. Peran yang paling penting ialah memberi dorongan dan dukungan saat ibu mulai mengambil alih berbagai tugas yang harus dilakukan seorang ibu.
            Langkah pertama untuk memberikan perawatan secara individual ialah memastikan identitas pasien dengan memeriksa gelang identifikasi pada pergelangan tangan pasien. Sementara itu, cocokkan nomor identifikasi bayi dengan nomor ibu. Perawat menunjukkan rasa kasih dan hormat dengan menanyakan keinginan-keinginan ibu dan menulisnya dalam catatan pasien dan rencana asuhan keperawatan. Implementasi rencana asuhan keperawatan meliputi menjalankan aktivitas spesifik yang akan menghasilkan apa yang diharapkan oleh setiap individu pasien.
1) Mencegah infeksi.
            Salah satu cara terpenting mencegah infeksi adalah mempertahankan lingkungan yang bersih. Penutup tempat tidur harus diganti setiap hari, tampon atau pelapis sekali pakai perlu diganti lebih sering. Supervisi penggunaan fasilitas untuk mencegah kontaminasi silang juga diperlukan.
            Perawatan tempat episiotomi dan setiap laserasi perineum yang dilakukan dengan baik mencegah infeksi pada daerah genitourinaria dan mempercepat proses penyembuhan. Ajari ibu membersihkan perineum dari arah depan ke belakang setelah berkemih atau defekasi.
            Hal ini merupakan langkah pertama yang sederhana, tetapi sangat efektif. Pasien juga perlu diajari mengganti pelapis perineumnya dari arah depan ke belakang setiap kali selesai berkemih atau defekasi dan untuk mencuci tangan sampai bersih sebelum dan sesudah melakukan hal tersebut.

2) Mencegah pendarahan berlebih.
            Penyebab pendarahan setelah melahirkan yang paling sering ialah atonia uterus yaitu kegagalan otot rahim untuk berkontraksi dengan kuat. Pada palpasi, rahim teraba lunak. Dua intervensi untuk mencegah pendarahan berlebih ialah mempertahankan otot rahim dan mencegah distensi kandung kemih. Intervensi utama untuk mempertahankan tonus otot rahim yang baik ialah menstimulasi dengan pijatan lembut di bagian fundus rahim sampai rahim teraba keras.
            Pemberian pengajaran pada pasien sangat penting untuk mempertahankan tonus rahim. Intervensi lain yang sangat bisa dilakukan adalah memberikan cairan intravena dan obat-obat oksitoksik.

3) Mencegah distensi kandung kemih.
            Kandung kemih yang penuh membuat rahim terdorong ke atas umbilikus dan salah satu sisi abdomen. Keadaan ini juga mencegah uterus untuk berkontraksi secara normal. Intervensi perawat difokuskan untuk membantu ibu mengosongkan kandung kemih. Prioritas pertama ialah membantu ibu ke kamar kecil atau berkemih bedpan jika ibu tidak mampu untuk berjalan. Membiarkan ibu mendengar air mengalir, merendam tangannya di dalam air yang hangat, atau memercik air dari botol ke perineumnya bisa merangsangnya berkemih.

5. Evaluasi
          Evaluasi adalah bagian akhir dari proses keperawatan. Semua tahap proses keperawatan (diagnosa, tujuan, intervensi), harus dievaluasi pada hasil akhir berupa :
Teruskan jika rencana dan masalah masih ada, revisi/modifikasi masalah yang masih ada dan rencana diubah dan diperbaiki, batal/disingkirkan bila masalah yang disebut kemungkinan tetapi tidak ditemui data pendukung, terpecah/selesai bila masalah dipecahkan dan intervensi dihentikan (Keliat, 1990).
            Evaluasi perawatan merupakan proses yang berlangsung secara kontinu dan dimulai saat pasien masuk ke rumah sakit dan berakhir saat pasien pulang. Apabila kemajuan kesehatan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan maka intervensi perlu dimodifikasi.
            Evaluasi respon ibu terhadap intervensi merupakan bagian dari kelanjutan proses keperawatan. Semua respon terhadap intervensi harus dicatat dengan hati-hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar