Asuhan
keperawatan yaitu memberikan pelayanan yang menyeluruh diartikan sebagai
pemberi bantuan dengan memulihkan diri pada waktu klien/individu tidak dapat
melaksanakan kegiatan tersebut (Yaya adela, 1996).
Konsep Asuhan keperawatan merupakan
langkah awal tahapan proses keperawatan. Proses keperawatan adalah bentuk
pelayanan kesehatan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan mencakup bio, psiko,
sosio, dan spiritual yang komprehensif ditujukan pada individu, keluarga,
kelompok, masyarakat baik sehat maupun sakit (CHS, 1982).
Proses
keperawatan yang digunakan terdiri dari 5 tahap, yaitu :
1.
Pengkajian
Pengkajian adalah dasar utama dari
proses keperawatan, pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu
penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan
dan kebutuhan klien, serta merumuskan diagnosa keperawatan (Keliat, 1990).
Suatu pengkajian fisik lengkap,
termasuk pengukuran tanda-tanda vital, dilakukan pada saat masuk ke unit
pascapartum. Hal penting lainnya yang juga harus diperoleh saat ibu diterima
dalam unit pascapartum ialah laporan yang komprehensif tentang peristiwa yang
terjadi selama periode intrapartum. Komponen pengkajian awal yang lain adalah
status emosi ibu, tingkat energi, derajat kelelahan fisik, rasa lapar, dan rasa
haus. Pada tingkat tertentu, pengetahuan ibu tentang perawatan diri dan perawatan
bayi dapat ditentukan (Cashion and Johnston, 2004).
Pengkajian pada klien postpartum
menurut Cashion and Johnston meliputi :
a. Tanda-tanda vital.
Pengkajian tekanan darah, nadi, dan
pernafasan pasien biasanya dilakukan setiap 15 menit selama 1 jam pertama
setelah bayi lahir. Apabila kondisi ibu tetap stabil frekuensi pengkajian dikurangi
setelah masa awal periode pemulihan berakhir, misalnya setiap 30 menit selama 2
jam berikutnya. Suhu badan ibu dikaji saat ibu masuk ke ruang pemulihan dan
diulang satu jam kemudian. Apabila tanda-tanda vital ibu tetap dalam batas
normal, pengkajian umumnya dilakukan setiap empat sampai delapan jam sepanjang
masa inap yang tersisa di rumah sakit.
b. Pengkajian fisik
berkelanjutan.
Ibu postpartum harus dievaluasi
dengan seksama pada setiap pergantian jaga selama mereka dirawat. Pengkajian
fisik mencakup ; pemeriksaan payudara, tinggi fundus, lokia, perineum, fungsi
kemih dan defekasi, tanda-tanda vital dan tungkai.
c. Uji laboratorium rutin.
Beberapa
uji laboratorium bisa segera dilakukan pada periode postpartum. Nilai haemoglobin
dan hematokrit seringkali dibutuhkan pada hari pertama postpartum untuk mengkaji
kehilangan darah pada saat persalinan. Spesimen urine dilakukan untuk
pemeriksaan urinalisis rutin atau kultur dan sensitifitas. Selain itu, catatan prenatal
ibu harus dikaji untuk menentukan status rubela dan Rhesus dan kebutuhan
therapi yang mungkin.
2.
Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi,
memfokuskan, dan mengatasi kebutuhan spesifik, serta respon terhadap masalah
aktual dan resiko tinggi.
Walaupun
semua wanita mengalami perubahan psikologis yang sama selama periode
postpartum, faktor-faktor tertentu membuat setiap ibu memiliki pengalaman yang
unik. Dari sudut pandang fisiologis tentang lama dan kesulitan persalinan,
setiap ibu harus menjalani pemeriksaan yang meliputi : Kelahiran (Pervaginam
atau sesaria), ada tidaknya laserasi atau episiotomi, apakah ibu akan menyusui sendiri
atau menggunakan susu formula.
Setelah data yang telah dianalisis
diperoleh pada proses pengkajian, perawat menegakkan diagnosa keperawatan yang
kemudian digunakan sebagai pedoman untuk merencanakan perawatan. Contoh diagnosa
keperawatan yang sering diidentifikasi pada pasien postpartum ialah sebagai
berikut :
1. Resiko tinggi infeksi yang berhubungan
dengan Trauma jalan lahir.
2. Konstipasi atau retensi urine yang
berhubungan dengan nyeri setelah melahirkan.
3. Gangguan pola tidur yang berhubungan
dengan ketidaknyamanan pada periode postpartum, perawatan bayi dan rutinitas di
rumah sakit.
4. Nyeri yang berhubungan dengan involusi
rahim, trauma pada perineum, episiotomi, haemorroid, pembengkakan payudara.
5. Resiko tinggi cidera yang berhubungan
dengan pendarahan postpartum, efek anesthesia.
6. Defisit pengetahuan yang berhubungan
dengan pentingnya buang air kecil untuk mencegah pendarahan.
7. Proses menyusui tidak efektif yang
berhubungan dengan nyeri, pengaturan posisi bayi, respons fisiologis normal.
3.
Intervensi keperawatan
Setelah merumuskan diagnosis keperawatan,
maka intervensi keperawatan perlu diterapkan untuk menghilangkan dan mencegah
masalah keperawatan klien (Keliat, 1990).
Intervensi
atau rencana asuhan keperawatan meliputi perawatan pada ibu postpartum dan
bayinya, sekalipun perawat di unit rawat bayi tetap mengemban tanggung jawab
utama dalam perawatan bayi. Setelah diagnosa keperawatan disusun, perawat
bersama pasien menetapkan prioritas tindakan keperawatan yang akan dilakukan
dengan tepat. Selama dirawat di rumah sakit, ibu dianjurkan mengambil tanggung
jawab yang semakin besar dalam merawat bayinya. Dengan demikian pasien dan
pasangannya akan memberi lebih banyak perawatan kepada bayi dan tugas perawat
sedikit demi sedikit beralih dari pemberi perawatan langsung menjadi pengajar,
pemberi semangat, dan pemberi dukungan.
Rencana asuhan keperawatan akan
meliputi pengkajian untuk mendeteksi adanya deviasi perubahan fisik normal,
tindakan untuk menghilangkan nyeri dan tindakan keamanan untuk mencegah cidera
atau infeksi. Rencana keperawatan juga mencakup pengajaran dan konseling yang
ditujukan untuk meningkatkan perasaan kompeten pasien dalam merawat diri maupun
bayinya. Anggota keluarga juga dilibatkan dalam pengajaran. Perawat
mengevaluasi secara kontinu dan siap mengubah rencana jika ada indikasi.
4.
Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan perencanaan keperawatan
oleh perawat dan klien. Beberapa petunjuk pada implementasi adalah sebagai
berikut :
Implementasi
dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, keterampilan
interpersonal, intelektual, tekhnikal hendaknya dilakukan dengan cermat dan
efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologi dilindungi, dokumentasi
intervensi dan respon klien (Keliat, 1990).
Perawat memainkan banyak peran
sewaktu mengimplementasi rencana asuhan keperawatan. Memberikan perawatan fisik
secara langsung, mengajarkan perawatan ibu dan anak, dan memberi pedoman serta
konseling. Peran yang paling penting ialah memberi dorongan dan dukungan saat
ibu mulai mengambil alih berbagai tugas yang harus dilakukan seorang ibu.
Langkah pertama untuk memberikan
perawatan secara individual ialah memastikan identitas pasien dengan memeriksa
gelang identifikasi pada pergelangan tangan pasien. Sementara itu, cocokkan
nomor identifikasi bayi dengan nomor ibu. Perawat menunjukkan rasa kasih dan
hormat dengan menanyakan keinginan-keinginan ibu dan menulisnya dalam catatan
pasien dan rencana asuhan keperawatan. Implementasi rencana asuhan keperawatan
meliputi menjalankan aktivitas spesifik yang akan menghasilkan apa yang
diharapkan oleh setiap individu pasien.
1) Mencegah infeksi.
Salah
satu cara terpenting mencegah infeksi adalah mempertahankan lingkungan yang
bersih. Penutup tempat tidur harus diganti setiap hari, tampon atau pelapis
sekali pakai perlu diganti lebih sering. Supervisi penggunaan fasilitas untuk
mencegah kontaminasi silang juga diperlukan.
Perawatan tempat episiotomi dan
setiap laserasi perineum yang dilakukan dengan baik mencegah infeksi pada
daerah genitourinaria dan mempercepat proses penyembuhan. Ajari ibu
membersihkan perineum dari arah depan ke belakang setelah berkemih atau
defekasi.
Hal ini merupakan langkah pertama yang
sederhana, tetapi sangat efektif. Pasien juga perlu diajari mengganti pelapis
perineumnya dari arah depan ke belakang setiap kali selesai berkemih atau
defekasi dan untuk mencuci tangan sampai bersih sebelum dan sesudah melakukan
hal tersebut.
2) Mencegah pendarahan
berlebih.
Penyebab
pendarahan setelah melahirkan yang paling sering ialah atonia uterus yaitu
kegagalan otot rahim untuk berkontraksi dengan kuat. Pada palpasi, rahim teraba
lunak. Dua intervensi untuk mencegah pendarahan berlebih ialah mempertahankan
otot rahim dan mencegah distensi kandung kemih. Intervensi utama untuk
mempertahankan tonus otot rahim yang baik ialah menstimulasi dengan pijatan lembut
di bagian fundus rahim sampai rahim teraba keras.
Pemberian pengajaran pada pasien
sangat penting untuk mempertahankan tonus rahim. Intervensi lain yang sangat
bisa dilakukan adalah memberikan cairan intravena dan obat-obat oksitoksik.
3) Mencegah distensi
kandung kemih.
Kandung kemih yang penuh membuat
rahim terdorong ke atas umbilikus dan salah satu sisi abdomen. Keadaan ini juga
mencegah uterus untuk berkontraksi secara normal. Intervensi perawat difokuskan
untuk membantu ibu mengosongkan kandung kemih. Prioritas pertama ialah membantu
ibu ke kamar kecil atau berkemih bedpan jika ibu tidak mampu untuk berjalan.
Membiarkan ibu mendengar air mengalir, merendam tangannya di dalam air yang
hangat, atau memercik air dari botol ke perineumnya bisa merangsangnya
berkemih.
5.
Evaluasi
Evaluasi adalah bagian akhir dari proses keperawatan. Semua
tahap proses keperawatan (diagnosa, tujuan, intervensi), harus dievaluasi pada hasil
akhir berupa :
Teruskan
jika rencana dan masalah masih ada, revisi/modifikasi masalah yang masih ada
dan rencana diubah dan diperbaiki, batal/disingkirkan bila masalah yang disebut
kemungkinan tetapi tidak ditemui data pendukung, terpecah/selesai bila masalah
dipecahkan dan intervensi dihentikan (Keliat, 1990).
Evaluasi perawatan merupakan proses
yang berlangsung secara kontinu dan dimulai saat pasien masuk ke rumah sakit dan
berakhir saat pasien pulang. Apabila kemajuan kesehatan tidak sesuai dengan apa
yang diharapkan maka intervensi perlu dimodifikasi.
Evaluasi respon ibu terhadap
intervensi merupakan bagian dari kelanjutan proses keperawatan. Semua respon
terhadap intervensi harus dicatat dengan hati-hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar